Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia melaporkan, pada tahun 2017 secara jumlah unit, UMKM memiliki pangsa pasar 99,99% (62,9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. Usaha Mikro juga menyerap 107,2 juta tenaga kerja, sekitar 89,2% dari tenaga kerja nasional.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008, dijelaskan UMKM sebagai “perusahaan kecil yang dimiliki dan dikelola oleh seseorang atau dimiliki oleh sekelompok kecil orang dengan jumlah kekayaan dan pendapatan tertentu”. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang ada di desa-desa, seperti yang ada di desa Ploso.

Kunci pengembangan produk UMKM adalah tersedianya pasar yang cocok untuk produk UMKM. Pasar yang semakin kecil tentu akan menutup potensi pengembangan UMKM sehingga UMKM akan lambat berkembang. Sebaliknya, pasar yang besar dan mendukung akan membantu pengembangan UMKM agar menjadi lebih besar.

Salah satu sarana yang dapat dipakai untuk membesarkan pasar adalah dengan menggunakan ­e-commerce. Indonesia memiliki banyak sekali ­e-commerce yang support terhadap UMKM, seperti Blibli, Tokopedia, dan Shopee. Perkembangan ­e-commerce di Indonesia juga sangat pesat dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Pada tahun 2014, ada 19,8 juta pengguna ­e-commerce di Indonesia. Namun pada tahun 2020, diperkirakan ada 39,3 juta pengguna rutin yang berbelanja di ­e-commerce.

Kemeterian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga memfasilitasi UMKM untuk masuk ke dalam pasar ­e-commerce. Sampai tahun 2019 sendiri, ada 8 juta UMKM yang sudah bergabung di berbagai ­e-commerce yang ada di Indonesia. Kominfo juga sudah menginisiasi program UMKM Go-Online untuk menambah penetrasi UMKM yang menjual produknya via ­e-commerce. Disadur dari website Kominfo, rogram UMKM Go-Online berupaya membantu masyarakat kecil terutama pengusaha mikro, kecil, dan menengah untuk ikut berjualan daring dengan memanfaatkan marketplace yang ada di ­e-commerce.

Dari survei yang dilakukan pada Juni 2020 oleh Sea Insight, ditemukan bahwa 45% pelaku usaha lebih aktif berjualan di ­e-commerce untuk mengubah strategi penjualan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini dapat dijadikan inspirasi agar kita dapat berjualan di ­e-commerce untuk memperluas pasar yang ada. Selain itu, 1 dari 5 UMKM yang aktif berjualan di ­e-commerce mengatakan ini pertama kalinya mereka berjualan di platform online. Maka, tidak menutup kemungkinan pula bapak/ibu dapat berjualan di ­e-commerce yang ada di Indonesia.

Berjualan di ­e-commerce juga dapat membantu meningkatkan omset bisnis bapak/ibu sehingga pemasukan keluarga menjadi lebih sehat. Data menunjukkan bahwa mereka yang beralih ke ­e-commerce juga merasakan banyak manfaat. Misalnya, setelah berjualan di ­e-commerce, 60% dari UMKM ini dapat berjualan ke luar daerah yang belum pernah tersambangi sebelumnya, dan meningkatkan total pendapatan hingga 165%.

Pemanfaatan ­e-commerce sebagai sarana berjualan juga dapat menunjang efisiensi dan inklusivitas bisnis. Riset McKinsey menyebutkan bahwa konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11%-25% dari nilai belanjanya dengan menggunakan ­e-commerce dibandingkan dengan berbelanja secara konvensional.

Kondisi-kondisi ini harus dapat dimanfaatkan oleh kita sebagai pelaku UMKM untuk memasarkan produk-produk kreatif yang ada di desa Ploso. Desa Ploso memiliki banyak sekali potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pendapatan keluarga, seperti olahan ketela, olahan ubi, dan juga genteng dengan kualitas yang baik, dan dapat dijual ke seluruh Indonesia.

Produk-produk kreatif yang bersumber dari desa Ploso ini jika dikembangkan dengan baik, maka ke depannya dapat menjadi sebuah kekhasan tersendiri bagi desa Ploso dan dapat menjadi ikon atau komoditas utama yang terkenal dan disukai oleh masyarakat Ploso dan bangsa Indonesia.

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Peta Desa

Statistik