Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia tanaman obat, kata simplisia pasti sudah tidak asing lagi. Simplisia merupakan bahan alami yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami proses pengolahan apapun, kecuali pengeringan untuk menurunkan kadar air. Lantas, apa perbedaannya dengan rimpang? Rimpang merupakan modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya. Jadi, perbedaan dasarnya adalah rimpang masih berbentuk bahan segar yang masih utuh sementara simplisia merupakan bahan kering dan sudah mengalami perubahan bentuk karena pengolahan.

 

Kenapa simplisia?

Pada umumnya, harga rimpang berada pada kisaran harga yang rendah, sehingga menjual hasil panen dalam bentuk rimpang menjadi kurang menguntungkan. Selain itu, produk biofarmaka dalam bentuk rimpang memiliki risiko degradasi mutu akibat penyimpangan yang akan semakin mengurangi nilai jualnya. Sebaliknya, simplisia memiliki harga yang lebih tinggi dan akan semakin tinggi jika permintaan konsumen sedang banyak. Segmen pasar simplisia juga tentunya akan lebih luas, salah satunya karena simplisia merupakan bahan baku pembuatan jamu bagi perusahaan besar seperti Sido Muncul. Oleh karena itu, menjual produk biofarmaka dalam bentuk simplisia tentu akan lebih menguntungkan dibanding menjualnya dalam bentuk rimpang.

Bagaimana cara memasarkan simplisia?

     Selain didistribusikan ke perusahaan atau pabrik obat herbal, simplisia dapat dijual secara mandiri oleh masyarakat. Simplisia dapat dipasarkan melalui platform e-commerce ataupun ke sociopreneur.

  1. Platform e-commerce (perdagangan secara elektronik) atau platform jual beli online

Sekarang ini, penjualan produk melalui internet sangat marak terjadi. Selain karena adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan adanya social distancing (jaga jarak), keuntungan melakukan pemasaran simplisia melalui e-commerce.

Pertama, pemasaran simplisia dapat menjangkau siapapun dan dimanapun, tanpa adanya batasan geografis. Selain itu, semakin maraknya pengguna smartphone juga memungkinkan penjual simplisia menjangkau lebih banyak calon konsumen.

Kedua, penjual simplisia akan mendapatkan konsumen baru via mesin penacari. Banyak orang yang melakukan riset sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Perilaku ini terjadi karena konsumen ingin memastikan bahwa produk yang akan dibeli memiliki kualitas yang baik, sehingga tidak heran jika banyak dari mereka yang mendarat di website e-commerce.

Ketiga, biaya pemasaran lebih terjangkau, hal ini bisa terjadi karena berjualan di e-commerce tidak membutuhkan toko fisik. Dengan kata lain, penjual simplisia dapat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membangun atau menyewa toko.

Keempat, e-commerce biasanya memberikan fasilitas perbandingan harga, sehingga para konsumen dapat menemukan harga terbaik untuk produk yang sama. Hal ini akan memudahkan penjual simplisia dalam menentukan strategi penetapan harga nantinya.

Kelima, pemasaran simplisia melalui e-commerce dapat berjalan sepanjang waktu, 24 jam sepanjang hari dan sepanjang tahun. Hal ini jelas menguntungkan penjual simplisia karena konsumen dapat memesan kapan saja. meskipun beroperasi 24 jam, penjual simplisia tidak perlu memantau e-commerce seharian penuh, karena e-commerce sudah dilengkapi dengan sistem khusus yang dapat menerima pembelian secara otomatis dan penjual akan menerima pemberitahuan secara realtime.

  1. Melalui Sociopreneur

      Permasalahan seperti petani yang belum sejahtera, pengolahan penanaman rempah yang terkontaminasi bahan kimia, harga jual hasil panen yang rendah, panjangnya rantai distribusi pemasaran hasil panen dan tidak ada teknologi tepat guna untuk pengolahan pasca panen, kesemuanya itu memicu munculnya sociopreneur yang berusaha mengatasi masalah tersebut, salah satunya Agradaya. Apa itu sociopreneur? Sociopreneur merupakan usaha atau bisnis yang tidak hanya mengambil keuntungan semata, ada unsur sosial di dalamnya. 

Agradaya tidak hanya membeli dan memproduksi olahan hasil rempah para petani, disini petani akan mendapatkan pelatihan pertanian alami (organic farming), manajemen lahan, pelatihan usaha tani pembuatan solar drier house dan pola pembelian langsung (direct-fair trade) yang akan mengurangi biaya pembelian pupuk sekaligus menambah nilai jual produk simplisia. Produk simplisia akan dibeli oleh Agradaya dengan harga yang tetap, sehingga penjual simplisia terhindar dari risiko ketidakstabilan harga pasar.

Keuntungan menjual simplisia ke sociopreneur adalah petani akan mendapatkan baik edukasi maupun pelatihan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari simplisia yang dapat diterima oleh pangsa pasar. Dengan adanya kesesuaian standar produksi petani dengan pasar, nilai jual produk akan semakin meningkat sehingga petani lebih diuntungkan. Adanya peran pemuda dalam suatu sociopreneur disebut-sebut menjadi satu bukti bahwa pemuda memanglah agen perubahan bangsa, dalam hal ini berperan membantu masyarakat dalam menyesuaikan keadaan yang cepat mengalami perubahan, yaitu dengan mengantarkan produk olahan petani agar dapat diterima oleh pasar.

Lalu, metode pemasaran mana yang Anda pilih?

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Peta Desa

Statistik