Tanaman obat di Indonesia dikenal sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) atau apotek hidup. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menurut Harjono, dkk (2017) adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat yang dapat dimanfaatkan sebagai upaya peningkatan kesehatan baik dalam upaya preventif, promotif, maupun kuratif. Bagian tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai obat antara lain daun, kulit batang, buah, biji, dan akarnya. Umumnya, TOGA sering dimanfaatkan sebagai bahan jamu atau minuman kesehatan lainnya. TOGA menurut Kementerian Kesehatan (2011) memberikan banyak manfaat yang dapat dilihat dari aspek kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.

Banyak masyarakat desa yang menggunakan tanaman obat sebagai obat herbal alternatif. Selain karena warisan budaya turun-temurun obat herbal juga memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan obat sintetik. Penggunaan obat herbal dari tanaman obat banyak ditemukan di masyarakat, seperti apabila masyarakat desa mengalami mual dan mabuk perjalanan, mereka menggunakan wedang jahe untuk meredakannya. Selain itu, masyarakat desa menggunakan hasil perasan kencur yang diparut untuk untuk meredakan batuk. Selain dua contoh tersebut, masih banyak penggunaan obat herbal lainnya yang tersebar di wilayah Indonesia. Bahkan pemanfaatan tumbuhan sebagai obat telah ada sejak zaman prasejarah manusia. Sebanyak 122 senyawa pada tahun 2001 telah diidentifikasi oleh para peneliti dan digunakan di dunia kedokteran modern merupakan turunan dari pengobatan herbal.

Berdasarkan Badan Pusat Statistika Kabupaten Pacitan, luas lahan dan jumlah produksi biofarmaka (tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan) yang tercatat di Kecamatan Punung terdiri dari jahe, laos/lengkuas, kencur, dan kunyit. Hal tersebut dapat menjadi peluang pengembangan tanaman obat sebagai komoditas potensial daerah. Dari keempat tanaman obat tersebut, jumlah produksi mengalami pasang surut. Adanya peningkatan produksi yang terjadi dipicu oleh tren penggunaan bahan alami sebagai tanggapan dari isu back to nature di kalangan masyarakat global. Adapun statistik luas panen dan jumlah produksi dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 1. Data luas panen tanaman biofarmaka di Kecamatan Punung

Gambar 2. Data jumlah produksi tanaman biofarmaka di Kecamatan Punung

 

Tanaman obat bisa menjadi salah satu peluang yang menguntungkan, terlebih apabila masyarakat dapat mengolah bagian tanaman obat yang berkhasiat menjadi simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami proses pengolahan apapun, kecuali pengeringan untuk menurunkan kadar air.

Simplisia menurut asal bahan dibedakan menjadi 3, yaitu

  1. Simplisia nabati, berasal dari seluruh/bagian tumbuhan

Contoh : rimpang jahe, purwoceng, mahkota dewa, dan lain-lain

  1. Simplisia hewani, berasal dari seluruh/bagian hewan

Contoh : undur-undur, sarang semut, minyak ikan, dan lain-lain

  1. Simplisia pelikan, berasal dari bahan mineral

Contoh: belerang, uap garam, serbuk seng, dan lain-lain

 

Adapun tahap pembuatan simplisia secara umum, sebagai berikut

  1. Pengumpulan bahan

Bahan dipanen saat cukupumur, memiliki kemurnian tinggi, dan telah diidentifikasi secara pasti.

  1. Sortasi basah

Bahan yang masih segar dipilih yang bersih, normal, sehat, dan bebas hama/penyakit

  1. Pencucian

Bahan dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

  1. Perajangan

Perajangan ditujukan untuk menipiskan bahan, memperbesar permukaan bahan, dan mempercepat pengeringan

  1. Pengeringan

Pengeringan dilakukan dengan dijemur di bawah matahari langsung atau oven untuk menurunkan kadar air

  1. Sortasi kering

Bahan yang bersih dan bagus dipilih

  1. Pengawetan (opsional)

Bahan diberi gel apabila diperlukan

  1. Pengemasan

Bahan dikemas dalam wadah plastik yang kedap udara atau toples kaca untuk memudahkan pengiriman

 

Tahap pembuatan simplisia setiap tanaman obat berbeda-beda. Oleh karena itu, masyarakat yang hendak membuat simplisia mencari tutorial atau pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah atau akademisi atau perusahaan obat herbal karena pengolahan simplisia mempengaruhi standar mutu.

Berikut adalah link Operasional Budidaya Tanaman Obat yang membahas prosedur pengeringan simplisia dari jahe, kencur, kunyit, dan temulawak.

Standar Prosedur Jahe-Kencur-Kunyit-Temulawak

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Peta Desa

Statistik