Ketela pohon merupakan salah satu bahan makanan pokok masyarakat Indonesiayang menjadi komoditas unggulan nasional. Nama lain dari ketela pohon diantaranya ubi kayu, singkong, dan kaspe.Hampir semua bagian ketela pohon dimanfaatkan seperti umbinya yang dikenal luassebagai makanan pokok penghasil karbohidrat. Selain itu, daunnya juga biasa digunakan untuk sayuran.

Di Indonesia, persentase penggunaan ketela pohon adalah 28% untukbahan baku industri, 2% untuk bahan pakan, dan 80% diekspor dalam bentuk gaplek. Selain gaplek, ketela pohon dapat diekspor ke negara lain dalam bentuk singkong mentah dan tepung singkong/tepung tapioka. Secara umum alur produksi danpemasaran ketela pohon ditunjukkan oleh tabel dibawah ini.

 

Melihat banyaknya peluang peruntukan dan pengolahan darinya, ketela pohon dapat dikembangkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan ekspor sekaligus kebutuhan industri kecil dan besar sebagaimana pada tabel diatas. Salah satu cara untuk mendukung tujuan itu adalah menggunakan bahan tanam terbaik. Kementerian Pertanian telah benyak melepas varietas ketela pohon yang dapat digunakan oleh petani untuk tujuan pangan dan industri. Adapun ciri ketela pohon atau ubi kayu menurut tujuan adalah sebagai berikut

  1. Pangan (konsumsi langsung atau olahan)

Ubi kayu yang cocok untuk tujuan ini harus memiliki rasa enak (tidak pahit, HCN ≤40 mg/kg umbi segar) dan tekstur daging umbi lembut. Umbi dengan kandungan HCN tinggi dapat menyebabkan keracunan bagi manusia maupun hewan sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung. Varietas yang dapat digunakan diantaranya Malang-1 dan Adira-1, Malang-2, serta varietas lokal seperti Ketan dan Mentega.

Varietas

Tahun dilepas

Umur panen (bulan)

Hasil rata-rata (t/ha)

Kadar HCN (mg/kg)

Rendemen tepung

Karakter lain

Adira-1

1978

7-10

22

27,5

45

Tidak pahit, daging umbi kuning, tahan hama tungau merah, adaptif pop tinggi (15.000 tan/ ha) atau jarak tanam 1,2 m x60 cm

Malang-1

1992

9-10

36

<40

32-36

Tidak pahit, daging umbi putih kekuningan, toleran hama tungau merah

Malang-2

1992

8-10

31

<40

32-36

Tidak pahit, daging umbi kuning muda, agak tahan hama tungau merah, toleran penyakit hawar daun

 

  1. Industri

Untuk industri pangan yang berbasis tepung atau pati ubi kayu sebaiknya dipilih ubi kayu dengan daging umbi putih, kadar bahan kering, dan pati tinggi. Untuk keperluan industri tepung tapioka dan pati, umbi dengan kadar HCN tinggi tidak menjadi masalah karena akan hilang selama proses pengolahan. Varietas yang dapat digunakan diantaranya UJ-5, UJ-3, Adira-4, Malang-4, dan Malang-6.

Varietas

Tahun dilepas

Umur panen (bulan)

Hasil rata-rata (t/ha)

Kadar HCN (mg/kg)

Kadar pati (% basis basah)

Rendemen tepung

Karakter lain

UJ-5

2000

9-10

31

>100

19-30

46

Pahit, daging umbi putih, tahan penyakit leles, peka hama tungau merah, konversi ethanol 4,5 kg umbi kupas/L ethanol

UJ-3

2000

8–10

27

>100

20-27

41

Pahit, daging umbi kekuningan, agak tahan penyakit hawar daun, konversi ethanol 4,9 kg umbi kupas/L ethanol

Adira-4

1978

10

35

68

18-22

39

Pahit, daging umbi putih, tahan penyakit leles, konversi ethanol 4,5–4,7 kg umbi kupas/L ethanol

Malang-4

2001

9

40

100

25-32

Pahit, daging umbi putih, tahan hama tungau merah dan penyakit leles

Malang-6

2001

9

36

100

25-32

43

Pahit, daging umbi putih, tahan hama tungau merah, konversi ethanol 4,7–5,1 kg umbi kupas/L ethanol

 

            Adanya peningkatan produksi umbi perlu diikuti dengan cara pemasaran yang efektif. Selain memasarkan hasil di pasar atau ke tengkulak untuk diserahkan ke pabrik, petani dapat menggunakan cara lain untuk memutus mata rantai perdagangan yang kerap kali merugikan yaitu dengan mengolah ketela pohon bernilai ekonomi tinggi dan menjual langsung di gerai online. Cara pengolahan ketela pohon sudah dibahas dalam artikel lain.

Berikut cara memasarkan produk makanan dari ketela pohon secara online agar diminati oleh pembeli!

  1. Membuat merk makanan yang akan dijual. Dengan membuat merk, makanan yang dijual akan mempunyai identitas tersendiri. Pilih nama merk yang tidak terlalu panjang, namun unik.
  2. Buat foto atau video yang menjelaskan makanan yang dijual. Foto atau video akan menjadi salah satu faktor penentu dibeli atau tidaknya makanan yang akan dijual. Buatlah foto atau video semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian calon pelanggan.
  3. Deskripsikan bahan, bumbu dan rasa. Buat deskripsi bumbu atau bahan yang digunakan untuk membuat makanan yang akan dijual, jelaskan bumbu dan bahan utama dalam membuat makanan tersebut. Ini bertujuan agar pelanggan dapat membayangkan rasanya.
  4. Siapkan kemasan. Buatlah kemasan yang menarik dan kuat agar tahan banting dan melindungi makanan selama proses pengiriman.
  5. Beri jaminan pengiriman barang. Jika makanan yang dijual hanya bertahan dalam beberapa hari maka sebaiknya jasa pengiriman diberikan untuk konsumen yang berada dalam kota/kabupaten saja.
  6. Buat Toko online. Buatlah toko online untuk bisnis kuliner makanan olahan ketela pohon karena hal ini akan membuat pelanggan nyaman dalam berbelanja. Pilihlah platform e-commerce terpercaya di Indonesia.

Leaflet Varietas Unggul Ketela Pohon

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Peta Desa

Statistik