Perubahan iklim merupakan perubahan pola cuaca akibat aktivitas manusia yang berlangsung lama di suatu wilayah yang berdampak terhadap kenaikan kejadian cuaca ekstrem, perubahan pola hujan, peningkatan suhu dan permukaan air laut. Adapun penyebab dari perubahan iklim meliputi peningkatan konsentrasi gas karbon dioksida, metana, nitrogen oksida dan sejumlah gas industri di atmosfer, sehingga meningkatkan suhu rata-rata permukaan bumi dan menyebabkan efek gas rumah kaca. Efek gas rumah kaca adalah terperangkapnya panas dari matahari oleh gas-gas dalam atmosfer bumi. Penyebab tingginya konsentrasi gas rumah kaca di antaranya (1) penebangan dan pembakaran hutan; (2) penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara); (3) pencemaran air laut; (4) penggunaan pupuk buatan industri pertanian (meningkatnya gas nitrogen). Aktivitas manusia yang menyebabkan efek rumah kaca antara lain mengendarai kendaraan bermotor, penumpukan sampah, penggunaan kulkas dan air conditioner, serta penggunaan pupuk yang mengandung nitrogen di lahan pertanian dan peternakan.

 Secara umum perubahan iklim telah berdampak pada ekosistem dan manusia di seluruh bagian benua dan samudera di dunia serta berisiko besar bagi kesehatan manusia, keamanan pangan global, dan pembangunan ekonomi. Perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian dan ekosistem wilayah pesisir.

Ditinjau dari segi pembangunan ekonomi patut diperhatikan bahwa dari sekian banyak pelaku ekonomi (IPCC, 2007a), masyarakat miskin, terutama petani, merupakan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Hal tersebut dikarenakan kemampuan beradaptasi yang rendah, bukan hanya karena minimnya sumber daya yang dimiliki, tapi juga karena kehidupan yang amat bergantung pada sumber daya sehingga rentan terhadap perubahan iklim. Surmaini dan Faqih (2016) menyebutkan bahwa perubahan iklim yang berdampak serius pada sektor pertanian berupa perubahan pola hujan, panjang musim hujan, dan pergeseran awal musim hujan. Musim penghujan yang sebelumnya berlangsung lama akibat fenomena La Nina memicu bencana banjir dan gagal panen karena sawah terendam oleh air. Hal tersebut mengakibatkan menurunnya areal lahan panen dan produksi padi sebagai sumber pangan utama masyarakat Indonesia. Selain itu, curah hujan yang tinggi mengakibatkan naiknya kelembaban udara sehingga memicu berkembangnya gangguan oleh Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada lahan pertanaman. Hal ini tentu semakin menambah daftar panjang dampak perubahan iklim yang ada. Selain La Nina, fenomena El Niño juga memberikan dampak pada sektor pertanian. El Niño didominasi oleh penurunan curah hujan yang menyebabkan bencana kekeringan dan mundurnya waktu tanam pada musim hujan. Menurut data Kementerian Pertanian, tanaman padi yang terkena kekeringan dalam rentang 1989-2015 mencapai 350-870 ribu ha. Hal tersebut memicu kegagalan panen karena tidak tersedianya air untuk menggenangi lahan. Dampak tersebut juga dirasakan oleh Desa Ploso.

Petani di Desa Ploso merasakan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya serta mundurnya musim hujan, hal ini menyebabkan kegagalan dalam pertanian. Dikutip dari staff desa Agus Purwowidodo dalam acara diskusi secara daring terkait permasalahan desa bersama KKN PPM-UGM unit Punung dengan Perangkat Desa Ploso bahwa “Permasalahan di Desa Ploso terkait pertanian yakni musim kering yang lebih panjang dan telah menyebabkan petani tidak dapat menanam, kelangkaan air terjadi, dan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi para petani beralih menjadi kuli, seperti kuli bangunan atau kuli yang lain.”  Tentunya hal ini sangat mengkhawatirkan, sehingga perlu suatu adaptasi tanggap dampak perubahan iklim yang terjadi di desa, terutama yang berdampak langsung pada petani.

Menurut Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim adaptasi di sektor pertanian sangat diperlukan, mengingat pertanian paling rentan terhadap perubahan iklim, sehingga adaptasi merupakan tindakan keharusan pada bidang pertanian. Hal yang dapat dilakukan misalkan mengatasi perubahan musim yang berubah, dapat dilakukan antara lain menyesuaikan waktu tanam dengan musim hujan pertama, menanam varietas tanaman pangan yang tahan terhadap suhu ekstrim, memperbaiki sistem irigasi yang lebih mampu menampung air agar pada musim kemarau panjang masih tersedia cadangan air. Beberapa petani telah menerapkan sistem pertanian organik yang tidak membutuhkan banyak air dan juga pestisida. Tentunya masih banyak lagi hal-hal yang dapat dilakukan oleh petani untuk mengatasi dampak dari perubahan iklim yang mengancam pertanian mereka. Petani dapat mencari informasi mengenai perubahan iklim dan dampak-dampak pada pertanian serta solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan mereka secara mandiri sebagai bentuk sikap kesiap-siagaan terhadap dampak perubahan iklim.

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Peta Desa

Statistik