Efek-efek perubahan iklim saat ini terasa di seluruh dunia. Beberapa daerah akan mengalami dampaknya secara langsung seperti kemarau yang lebih panjang dan parah, sedangkan daerah lain akan mengalami banjir dan badai yang lebih sering dan intens. Ada juga daerah yang mengalami kedua-duanya secara bersamaan, yakni kekeringan dan banjir. Maka kelompok yang terkena dampak ini harus beradaptasi dengan implikasi lingkungan, ekonomi dan sosial. Perubahan iklim akan berdampak pada sumber air, risiko banjir, kesehatan, hasil pertanian, mata pencaharian, kondisi hidup, serta transportasi, terutama pada kelompok-kelompok yang rentan. Oleh karena itu strategi adaptasi dan mitigasi diperlukan dari tingkat global, nasional, regional dan lokal, termasuk di desa Ploso.

Sekrtor Pertanian menjadi sektor terdampak atas fenomena perubahan iklim. Dampak perubahan iklim berpengaruh negatif terhadap sumber daya (lahan dan air), infrastruktur pertanian (irigasi) hingga sistem produksi melalui produktivitas, luas tanam dan panen. Penurunan panen mengakibatkan ketersediaan dan kualitas pangan terganggu sehingga akses pangan setiap individu menjadi terhambat sehingga akan mempengaruhi ketahanan pangan suatu negara. Saat ini, perubahan iklim masih dapat dirasakan dengan adanya peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, perubahan peristiwa cuaca ekstrem, dan pengurangan ketersediaan air yang semua itu tergolong dalam anasir iklim yang mempengaruhi aktivitas pertanian. Apabila hal tersebut terus berlangsung dalam periode mendatang, bencana kelaparan tentu tidak dapat dihindarkan.

Perubahan iklim membuat suhu permukaan bumi meningkat dan menyebabkan perubahan cuaca yang ekstrem yang memicu kenaikan permukaan air laut, gelombang panas, kebakaran hutan, banjir dan kekeringan di berbagai daerah. Perubahan iklim dapat berdampak pada aspek sosial dan lingkungan yang menjadi penentu kesehatan seperti berkurangnya sumber air bersih, meningkatnya perkembangbiakan beberapa mikroorganisme, sehingga berdampak pada kesejahteraan manusia seperti meningkatnya kasus kelaparan, gizi kurang dan kejadian penyakit infeksi.

Sektor pengguna energi merupakan sektor yang paling besar kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca. Penggunaan energi terbarukan dan konservasi merupakan mitigasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (Sugiyono, 2006). Metode pembangkit listrik yang digunakan saat ini – terus meningkat bersumber dari batu bara – adalah penghasil gas rumah kaca yang terus meningkat. Akibat kebutuhan akan listrik yang terus meningkat, emisi gas rumah kaca Indonesia yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, diperkirakan akan bertambah pula. Melihat tren sektor energi dan kelistrikan saat ini, tingkat emisi bahan bakar fosil Indonesia akan meningkat tiga kali lipat di tahun 2030.

Intervensi masyarakat setempat diperlukan dalam penanganan perubahan iklim, diketahui juga masyarakat Ploso memiliki ikatan sosial yang kuat serta masih menerapkan nilai-nilai gotong royong. Sumber daya sosial ini penting jika melihat bagaimana kesiapsiagaan bencana berbasis kelompok dapat dijalankan terutama oleh masyarakat yang memiliki ikatan sosial yang kuat. Jenis intervensi masyarakat yang paling umum adalah struktural (memperbaiki jalan, membangun jembatan, dll.), Yang menunjukkan bahwa kelompok masyarakat mampu mengumpulkan sumber daya dan tenaga manusia yang substansial untuk melaksanakan upaya adaptasi (Choko et al., 2019).

Rekomendasi

  1. Edukasi dampak perubahan iklim kepada masyarakat desa Ploso
  2. Melakukan adaptasi di bidang pertanian, baik dengan melakukan strategi struktural dengan berfokus pada upaya perbaikan kondisi fisik, seperti pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi. Maupun strategi non-struktural yang berfokus pada pengembangan teknologi budidaya.
  3. Memperbaiki fasilitas kesehatan, penyaluran informasi mengenai dampak perubahan iklim pada kesehatan dan meningkatkan kesadaran kesehatan kepada masyarakat agar lebih memperhatikan kebersihan dan penyimpanan air, menghambat penyebaran penyakit dengan sistem pengawasan pola-pola penyakit lebih ketat.
  4. Meningkatkan pemanfaatan peralatan hemat energi dan pemanfaatan energi setempat, khususnya energi baru dan terbarukan.
  5. Menerapkan metode pengelolaan sampah berdasarkan paradigma baru, yaitu memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan.
  6. Sinergi masyarakat dan pemerintah untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Policy Brief yang lengkap bisa diunduh disini

Policy Brief Desa tangguh bencana

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Peta Desa

Statistik