desaploso

Bencana adalah peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam, non alam dan manusia yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Jenis bencana adalah sebagai berikut:
Bencana alam

  1. Bencana akibat faktor geologi. Terjadi di permukaan bumi. Contohnya: gempa bumi, tsunami dan gunung meletus
  2. Bencana akibat faktor hydrometeorologi. Berhubungan dengan perubahan iklim di bumi. Contohnya: banjir, tanah longsor, kekeringan, dan angin topan

Bencana non alam

  1. Bencana akibat faktor biologi. Penyakit yang menyerang makhluk hidup. Contohnya: wabah penyakit manusia, penyakit tanaman/ternak dan hama tanaman
  2. Bencana akibat faktor manusia. Contohnya: konflik antar manusia dan teror
  3. Kegagalan teknologi. Contohnya: kecelakaan industri, kecelakaan transportasi, radiasi nuklir, dan pencemaran bahan kimia

Kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan saat terjadi bencana, yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui langkah-langkah pengorganisasian tepat dengan melibatkan seluruh pihak.

Beberapa upaya untuk kesiapsiagaan:

  1. Memahami bahaya disekitar
  2. Memahami sistem peringatan dini setempat dan mengetahui rute evakuasi dan rencana pengungsian
  3. Memiliki ketrampilan untuk mengevaluasi situasi secara cepat dan mengambil tindakan secara tepat untuk melindungi diri
  4. Memiliki rencana antisipasi bencana untuk keluarga dan mempraktikkan rencana tersebut dengan latihan
  5. Mengurangi dampak bahaya melalui latihan mitigasi dan pelatihan kegawatdaruratan

Rencana kesiapsiagaan.

Miliki rencana antisipasi bencana keluarga, meliputi:

  1. Analisis ancaman di sekitar
  2. Identifikasi titik kumpul
  3. Menyimpan nomor telepon penting
  4. Ketahui rute evakuasi
  5. Identifikasi lokasi untuk mematikan air, gas dan listrik
  6. Identifikasi titik aman di dalam bangunan atau rumah
  7. Identifikasi anggota keluarga yang rentan (anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas)
  8. Menyimak informasi dari berbagai media dan sumber informasi yang resmi

Menyimpan dan menyiapkan TAS SIAGA BENCANA, meliputi:

  1. Air minum untuk 3-10 hari
  2. Makanan untuk 3-10 hari
  3. Obat P3K
  4. Obat-obatan pribadi
  5. Lampu senter dan baterai cadangan
  6. Radio/alat komunikasi lain dan baterai cadangan
  7. Sejumlah uang, tanda pengenal, nomor dan dokumen penting (akta kelahiran, sertifikat tanah/rumah, ijazah, dokumen asuransi, surat kepemilikan aset, dll) yang dimasukkan kedalam wadah tahan air
  8. Pakaian, jaket dan sepatu
  9. Pembersih higienis (tisu basah, hand sanitizer, dan perlengkapan mandi)
  10. Peralatan penunjang lainnya (peluit, sarung tangan, selotip, pisau lipat, masker dan pelindung kepala)

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersifat pathogen dengan penularan utama melalui urin hewan yang terinfeksi bakteri ini. Bakteri ini bertahan hidup selama berhari-hari atau berminggu-minggu pada kondisi hangat, lembap, dan sedikit alkali, terutama di air segar yang tenang atau mengalir lambat pada suhu sedang di musim panas serta di tanah yang lembap dan air di daerah tropik, TERUTAMA PADA MUSIM HUJAN.

GEJALA

Gejala muncul setelah melewati masa inkubasi sekitar 5-14 hari

  1. Demam
  2. Sakit kepala
  3. Mual dan muntah
  4. Nyeri otot terutama pada betis
  5. Ruam (kemerahan) kulit
  6. Menggigil
  7. Mata kemerahan
  8. Sakit perut
  9. Kulit menguning
  10. Batuk
  11. Sesak nafas

PENYEBARAN

Bakteri Leptospira dapat ditemukan pada anjing, hewan ternak dan hewan pengerat seperti tikus

  1. Melalui darah dan urin hewan terinfeksi
  2. Melalui genangan air yang tercemar urin hewan
  3. Melalui tanah atau lumpur yang tercemar urin hewan
  4. Melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi urin hewan

KOMPLIKASI

  1. Gagal ginjal
  2. Radang selaput
  3. Kerusakan hati
  4. Gangguan pernafasan
  5. Meningitis

KELOMPOK KERJA BERISIKO TINGGI

  1. Pekerja irigasi
  2. Petani
  3. Peternak
  4. Pekerja laboratorium
  5. Dokter hewan
  6. Pekerja pemotongan hewan
  7. Pekerja tambang

PENCEGAHAN PENULARAN LEPTOSPIROSIS

  1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, menjaga kebersihan diri dan lingkungan
  2. Mencuci tangan dan kaki dengan sabun
  3. Menyimpan makanan dan minuman dengan baik
  4. Membasmi tikus di rumah dan lingkungan
  5. Membersihkan bagian rumah dan sekitar dengan desinfektan
  6. Membersihkan selokan dan genangan air di lingkungan sekitar
  7. Memakai alat pelindung diri (sepatu bot, masker dan sarung tangan) bagi kelompok kerja risiko tinggi

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus arbovirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty). Wabah DBD biasanya akan mulai meningkat saat pertengahan musim hujan karena terdapat banyak genangan air sebagai tempat perkembangbiakan telur nyamuk.

Gejala umumnya timbul 4-7 hari sejak gigitan nyamuk, dan dapat berlangsung selama 10 hari. Beberapa gejala demam berdarah, yaitu:

  • Demam tinggi mencapai 40 derajat Celsius
  • Nyeri kepala berat
  • Nyeri pada sendi, otot, dan tulang
  • Nyeri pada bagian belakang mata
  • Nafsu makan menurun
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Ruam kemerahan sekitar 2-5 hari setelah demam
  • Perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit

 

Upaya Pencegahan Demam Berdarah Dengue

  1. Pemberian vaksin dengue pada anak usia 9-16 tahun sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan
  2. Menggunakan kelambu atau lotion saat tidur
  3. Menghentikan kebiasaan menggantung pakaian setelah pakai
  4. Mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah
  5. Menghindari wilayah daerah yang rentan terjadi infeksi
  6. Menggunakan pakaian yang tertutup

 

Pengendalian DBD di lingkungan

  1. Program 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur):
  2. Menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, kendi, dan gentong seminggu sekali.
  3. Menutup rapat tempat penampungan air, agar tidak dijadikan tempat nyamuk bertelur
  4. Mengubur dan menyingkirkan barang-barang yang dapat menanmpung air
  5. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk
  6. Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
  7. Gotong Royong membersihkan lingkungan
  8. Memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras
  9. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar
  10. Menanam tanaman pengusir nyamuk
  11. Memberantas sarang nyamuk yang dilakukan dalam dua kali pengasapan insektisida atau fogging dengan jarak 1 minggu

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Sumber pangan nasional negara Indonesia adalah padi. Pola konsumsi dengan hanya satu jenis pangan membuat beras selalu tinggi permintaan sehingga pemerintah mengeluarkan solusi penganekaragaman konsumsi pangan untuk mengurangi konsumsi beras. Indonesia memiliki potensi menghasilkan bahan pangan dari umbi-umbian yang sangat besar sebagai salah satu alternatif sumber pangan.

Umbi-umbian adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah, misalnya ubi kayu, ubi jalar, kentang, bawang, wortel, singkong, garut, kunyit, gadung, bawang, kencur, jahe, kimpul, talas, gembili, ganyong, bengkuang dan sebagainya. Pada umumnya umbi-umbian tersebut merupakan bahan sumber karbohidrat

Ubi jalar merupakan kelompok tanaman pangan yang paling banyak dibudidayakan di bidang pertanian bersumber karbohidrat setelah gandum, beras, jagung dan singkong. Kandungan kalsium dari ubi jalar lebih tinggi dibanding beras, jagung, terigu maupun sorghum. Kandungan kalsium tertinggi terutama pada ubi jalar kuning. Ubi merah dan ubi ungu merupakan sumber pangan yang baik karena kaya akan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari paparan radikal bebas. Sifat antiradikal bebas ini juga dapat menurunkan risiko mengalami penyakit kronis, seperti kanker, jantung, dan penuaan dini. Ubi juga merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral yang baik dan dapat dijadikan sumber karbohidrat alternatif di luar nasi.

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Pestisida adalah salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari petani. Hal tersebut dikarenakan pestisida dapat memberantas hama secara mudah dan cepat, memberantas rerumputan di sekitar tanaman, menekan kehilangan hasil karena hama, menghemat tenaga, waktu dan mengurangi biaya produksi. Keuntungan tersebut menjadikan pestisida menjadi input wajib dalam kegiatan budidaya. Namun, keuntungan-keuntungan yang dirasakan dapat membutakan beberapa petani terhadap kerugian tidak langsung, seperti residu yang tertinggal di tanaman, pencemaran lingkungan, menekan biodiversitas alam, dan beresiko mengakibatkan penyakit kanker, kerusakan genetik, kemandulan dan bayi lahir cacat.

Adanya risiko bahaya dalam pengaplikasian pestisida dapat diminimalisir dengan cara mengikuti prosedur pengaplikasian pestisida. Namun, petani masih belum sepenuhnya memenuhi prosedur  tersebut sehingga edukasi mengenai hal ini perlu dilakukan. Kesalahan penggunaan pestisida yang perlu ditinggalkan diantaranya tidak menggunakan kacamata, baju lengan pendek, topi, respirator/masker, sarung tangan, dan baju lengan panjang sebagaimana gambar berikut.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, petani harus menggunakan beberapa alat pelindung diri (APD), diantaranya topi, kacamata, respirator, baju berlengan panjang, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu boot, sebagaimana pada poster di bawah.

Selain menggunakan APD, petani juga harus mengikuti 6 Tepat pengaplikasian pestisida, yaitu tepat sasaran, tepat mutu, tepat dosis, tepat cara, tepat jenis, dan tepat waktu.

  1. Tepat Sasaran
    Tepat sasaran adalah pestisida yang digunakan harus sesuai dengan jenis OPT yang akan dikendalikan/menyerang.
  2. Tepat Mutu
    Tepat mutu adalah pestisida yang digunakan harus bermutu baik.
  3. Tepat Jenis Pestisida
    Tapat jenis adalah pestisida yang dipilih sesuai dengan yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman.
  4. Tepat Waktu Penggunaan
    Waktu penggunaan pestisida harus tepat, yaitu pada saat OPT mencapai ambang pengendalian sebagaimana diatur dalam Pengendalian Hama Terpadu.
  5. Tepat Dosis
    Tepat dosis adalah dosis pestisida sesuai dengan rekomendasi anjuran pada kemasan.
  6. Tepat Cara
    Tepat cara adalah pestisida harus diaplikasikan secara tepat, seperti disemprotkan dengan memakai alat pelindung diri sebagaimana yang disebutkan di atas.

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Corona virus disease (COVID-19) merupakan pandemik global yang menurut WHO (2020) disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. COVID-19 merupakan penyakit saluran pernapasan akut yang memiliki relasi dengan virus yang menyebabkan outbreak SARS yang terjadi di benua Asia pada tahun 2003, namun memiliki sifat dan gejala yang berbeda. Pandemi COVID-19 menurut WHO (2020) dinilai sebagai krisis kesehatan global terbesar di era modern setelah Perang Dunia II karena sejak kemunculannya di benua Asia pada akhir tahun 2019, virus tersebut menyebar keseluruh benua di dunia kecuali Antartika, dan kasus pasien terjangkit terus meningkat setiap harinya di berbagai benua.

Pandemi COVID-19 di Indonesia terkonfirmasi sejak Bulan Maret 2020 yang menyebabkan diterapkannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada beberapa daerah yang mengalami kejadian kasus COVID-1 9 tinggi seperti Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, dan dilakukannya kegiatan kerja atau belajar dari rumah untuk menghindari kerumunan masa yang merupakan salah satu cara penularan COVID-19 dan penerapan kebijakan physical distancing. Indonesia kini menerapkan kebijakan baru untuk berkegiatan dikala pandemi berlangsung dengan adab kebiasaan hidup baru (new normal) sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan menerapkan protokol-protokol kesehatan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pencegahan penularan COVID-1 9, salah satunya dengan memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, menghindari menyentuh area wajah, terutama sebelum mencuci tangan, dan menerapkan etika batuk dan bersin dengan benar.

 

Bagaimana Covid-19 di Pacitan?

Grafik jumlah kesembuhan pasien covid-19 di Kabupaten Pacitan menunjukan tren perbaikan. Perkembangan terakhir, 7 pasien dua kali uji swab dinyatakan negatif dan diperbolehkan pulang. Bersamaan dengan itu, Satuan Gugus Tugas Percepatan Penganganan Covid-19 Kabupaten Pacitan mengonfirmasi bahwa ada 6 warga Pacitan positif terinveksi virus corona. Kepastian itu disampaikan oleh juru bicara gugus tugas Rachmad Dwiyanto melalui siaran media, Senin (20/07). 6 kasus positif baru terdiri dari dua warga Tulakan merupakan bapak dan anak. Menurut Rachmad keduannya adalah keluarga dari PDP berasal dari Gresik yang meninggal dan dimakamkan di Tulakan. Pasien positif ketiga adalah warga Ngadirojo yang punya riwayat bepergian dari Surabaya. Pasien keempat merupakan sopir perusahaan di Sudimoro yang punya riwayat bepergian dari Bandung. Sedangkan pasien kelima dan keenam sama-sama memiliki riwayat kontak dengan pasien positif covid-19.

      Dengan penambahan kasus baru maka jumlah akumulasi kasus positif di Pacitan mejadi 49. Sedangkan pasien sembuh bertambah dari 18 menjadi 25. Dengan persentase kesembuhan sebesar 51 persen. Selain itu total pasien dalam pengawasan (PDP) di Kabupaten Pacitan mencapai 27 orang, selesai dipantau 18 orang dan meninggal berjumlah 9 orang. Total orang dalam pemantauan (ODP) tercatat berjumlah 690, dipantau 13 orang, selesai dipantau 676 dan yang meninggal 1 orang. Selanjutnya, jumlah orang tanpa gejala (OTG) berjumlah 783, masih dipantau berjumlah 54, selesai dipantau 729 orang dan tidak ada yang meninggal.

 

Kenapa menjaga imunitas selama Pandemi Covid-19 penting?

Di masa pandemi covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia seperti saat ini, menjaga imunitas tubuh kita adalah salah satu kunci untuk tidak tertular virus mematikan itu. Salah satu cara untuk menjaga kekebalan tubuh agar tetap imun adalah dengan mengkonsumsi makanan yang banyak kandungan nutrisi. Salah satunya adalah asam folat yang dipercaya bisa memberikan stimulan pada tubuh kita untuk imun terhadap virus yang masuk ke dalam tubuh dan juga nutrisi mengandung tinggi vitamin C yang sangat cocok untuk kekebalan tubuh kita. “Sumber-sumber  nutrisi dan vitamin tersebut sebaiknya diproses secara alami sehingga aman untuk dikonsumsi,” kata dokter spesialis kandungan dan kebidanan, Dr Boy Abidin SPOG dalam siaran persnya

Olahraga terukur dan terprogram serta asupan gizi seimbang merupakan faktor penting untuk menjaga imunitas tubuh, seperti saat pandemi Covid-19 sekarang. FITT itu merupakan singkatan. F artinya frekuensi, olahraga sebaiknya dilakukan 3-5 kali seminggu. I berarti intensitas. Lakukanlah olahraga dengan intensitas sedang atau 65%-75% dari denyut nadi maksimal (DNM) dikurangi umur (220-umur). T berarti time, atau lamanya berolahraga. Lakukan olahraga 20-30 menit, dan apabila kemampuannya memungkinkan, bisa dilakukan selama satu jam. T terakhir merupakan tipe atau jenis olahraga yang dilakukan harus bersifat aerobik. “Di masa pandemi karena harus diam di rumah, jenis olahraganya bisa sepeda statis, jalan/jogging, loncat-loncat di tempat tanpa berhenti, sesuai kemampuan,”

 

Apa saja rekomendasi sayur dan buah untuk menjaga imunitas tubuh?

Makanan yang kita konsumsi menentukan imunitas dan daya tahan tubuh kita dalam menangkal berbagai jenis penyakit, salah satunya adalah virus Covid-19.  Untuk itu, berikut rekomendasi konsumsi makanan yang dapat menangkal penyakit.

  1. Sayur bayam

Bayam mengandung antioksidan dan beta karoten yang dapat membantu tubuh melawan infeksi sistem kekebalan tubuh, seperti virus jahat. Vitamin C yang ada dalam bayam juga menjadi sumber nutrisi yang kuat dalam membantu mencegah flu biasa dan membantu mengurangi gejala penyakit.

  1. Jahe

Jahe adalah obat herbal yang sering digunakan masyarakat di Indonesia untuk mengurangi peradangan dalam tubuh. Manfaat jahe tersebut juga pernah dibahas dalam sebuah ulasan yang diterbitkan dalam International Journal of Preventative Medicine. Para peneliti menyebutkan bahwa khasiat antiradang yang kuat dari jahe  berperan melawan flu.

  1. Bawang putih

Bawang putih dapat menjaga sistem kekebalan tubuh dan imun. Senyawa bioaktif aliicin pada bawang putih juga bermanfaat melawan penyakit pilek dan infeksi lainnya.

  1. Sayur brokoli

Brokoli mengandung bahan kimia sulforaphane yang berperan mengaktifkan gen antioksidan dan enzim dalam sel kekebalan spesifik sehingga dapat memerangi radikal bebas di tubuh dan mencegah kita sakit.

  1. Buah jeruk

Buah yang kaya vitamin C ini dapat membantu sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan produksi sel darah putih yang berperan dalam melawan bibit penyakit. Menurut sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Pusat Nasional untuk Epidemiologi dan Kesehatan Penduduk, di Universitas Nasional Australia, vitamin C yang terkandung dalam jeruk sangat membantu dalam mencegah flu biasa.

Poster rekomendasi sayur dan buah selama pandemi Covid-19 dapat diakses melalui link berikut :

Poster Rekomendasi Buah dan Sayur Selama Covid-19

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Tanaman obat di Indonesia dikenal sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) atau apotek hidup. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menurut Harjono, dkk (2017) adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat yang dapat dimanfaatkan sebagai upaya peningkatan kesehatan baik dalam upaya preventif, promotif, maupun kuratif. Bagian tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai obat antara lain daun, kulit batang, buah, biji, dan akarnya. Umumnya, TOGA sering dimanfaatkan sebagai bahan jamu atau minuman kesehatan lainnya. TOGA menurut Kementerian Kesehatan (2011) memberikan banyak manfaat yang dapat dilihat dari aspek kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.

Banyak masyarakat desa yang menggunakan tanaman obat sebagai obat herbal alternatif. Selain karena warisan budaya turun-temurun obat herbal juga memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan obat sintetik. Penggunaan obat herbal dari tanaman obat banyak ditemukan di masyarakat, seperti apabila masyarakat desa mengalami mual dan mabuk perjalanan, mereka menggunakan wedang jahe untuk meredakannya. Selain itu, masyarakat desa menggunakan hasil perasan kencur yang diparut untuk untuk meredakan batuk. Selain dua contoh tersebut, masih banyak penggunaan obat herbal lainnya yang tersebar di wilayah Indonesia. Bahkan pemanfaatan tumbuhan sebagai obat telah ada sejak zaman prasejarah manusia. Sebanyak 122 senyawa pada tahun 2001 telah diidentifikasi oleh para peneliti dan digunakan di dunia kedokteran modern merupakan turunan dari pengobatan herbal.

Berdasarkan Badan Pusat Statistika Kabupaten Pacitan, luas lahan dan jumlah produksi biofarmaka (tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan) yang tercatat di Kecamatan Punung terdiri dari jahe, laos/lengkuas, kencur, dan kunyit. Hal tersebut dapat menjadi peluang pengembangan tanaman obat sebagai komoditas potensial daerah. Dari keempat tanaman obat tersebut, jumlah produksi mengalami pasang surut. Adanya peningkatan produksi yang terjadi dipicu oleh tren penggunaan bahan alami sebagai tanggapan dari isu back to nature di kalangan masyarakat global. Adapun statistik luas panen dan jumlah produksi dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 1. Data luas panen tanaman biofarmaka di Kecamatan Punung

Gambar 2. Data jumlah produksi tanaman biofarmaka di Kecamatan Punung

 

Tanaman obat bisa menjadi salah satu peluang yang menguntungkan, terlebih apabila masyarakat dapat mengolah bagian tanaman obat yang berkhasiat menjadi simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami proses pengolahan apapun, kecuali pengeringan untuk menurunkan kadar air.

Simplisia menurut asal bahan dibedakan menjadi 3, yaitu

  1. Simplisia nabati, berasal dari seluruh/bagian tumbuhan

Contoh : rimpang jahe, purwoceng, mahkota dewa, dan lain-lain

  1. Simplisia hewani, berasal dari seluruh/bagian hewan

Contoh : undur-undur, sarang semut, minyak ikan, dan lain-lain

  1. Simplisia pelikan, berasal dari bahan mineral

Contoh: belerang, uap garam, serbuk seng, dan lain-lain

 

Adapun tahap pembuatan simplisia secara umum, sebagai berikut

  1. Pengumpulan bahan

Bahan dipanen saat cukupumur, memiliki kemurnian tinggi, dan telah diidentifikasi secara pasti.

  1. Sortasi basah

Bahan yang masih segar dipilih yang bersih, normal, sehat, dan bebas hama/penyakit

  1. Pencucian

Bahan dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

  1. Perajangan

Perajangan ditujukan untuk menipiskan bahan, memperbesar permukaan bahan, dan mempercepat pengeringan

  1. Pengeringan

Pengeringan dilakukan dengan dijemur di bawah matahari langsung atau oven untuk menurunkan kadar air

  1. Sortasi kering

Bahan yang bersih dan bagus dipilih

  1. Pengawetan (opsional)

Bahan diberi gel apabila diperlukan

  1. Pengemasan

Bahan dikemas dalam wadah plastik yang kedap udara atau toples kaca untuk memudahkan pengiriman

 

Tahap pembuatan simplisia setiap tanaman obat berbeda-beda. Oleh karena itu, masyarakat yang hendak membuat simplisia mencari tutorial atau pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah atau akademisi atau perusahaan obat herbal karena pengolahan simplisia mempengaruhi standar mutu.

Berikut adalah link Operasional Budidaya Tanaman Obat yang membahas prosedur pengeringan simplisia dari jahe, kencur, kunyit, dan temulawak.

Standar Prosedur Jahe-Kencur-Kunyit-Temulawak

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia tanaman obat, kata simplisia pasti sudah tidak asing lagi. Simplisia merupakan bahan alami yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami proses pengolahan apapun, kecuali pengeringan untuk menurunkan kadar air. Lantas, apa perbedaannya dengan rimpang? Rimpang merupakan modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya. Jadi, perbedaan dasarnya adalah rimpang masih berbentuk bahan segar yang masih utuh sementara simplisia merupakan bahan kering dan sudah mengalami perubahan bentuk karena pengolahan.

 

Kenapa simplisia?

Pada umumnya, harga rimpang berada pada kisaran harga yang rendah, sehingga menjual hasil panen dalam bentuk rimpang menjadi kurang menguntungkan. Selain itu, produk biofarmaka dalam bentuk rimpang memiliki risiko degradasi mutu akibat penyimpangan yang akan semakin mengurangi nilai jualnya. Sebaliknya, simplisia memiliki harga yang lebih tinggi dan akan semakin tinggi jika permintaan konsumen sedang banyak. Segmen pasar simplisia juga tentunya akan lebih luas, salah satunya karena simplisia merupakan bahan baku pembuatan jamu bagi perusahaan besar seperti Sido Muncul. Oleh karena itu, menjual produk biofarmaka dalam bentuk simplisia tentu akan lebih menguntungkan dibanding menjualnya dalam bentuk rimpang.

Bagaimana cara memasarkan simplisia?

     Selain didistribusikan ke perusahaan atau pabrik obat herbal, simplisia dapat dijual secara mandiri oleh masyarakat. Simplisia dapat dipasarkan melalui platform e-commerce ataupun ke sociopreneur.

  1. Platform e-commerce (perdagangan secara elektronik) atau platform jual beli online

Sekarang ini, penjualan produk melalui internet sangat marak terjadi. Selain karena adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan adanya social distancing (jaga jarak), keuntungan melakukan pemasaran simplisia melalui e-commerce.

Pertama, pemasaran simplisia dapat menjangkau siapapun dan dimanapun, tanpa adanya batasan geografis. Selain itu, semakin maraknya pengguna smartphone juga memungkinkan penjual simplisia menjangkau lebih banyak calon konsumen.

Kedua, penjual simplisia akan mendapatkan konsumen baru via mesin penacari. Banyak orang yang melakukan riset sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Perilaku ini terjadi karena konsumen ingin memastikan bahwa produk yang akan dibeli memiliki kualitas yang baik, sehingga tidak heran jika banyak dari mereka yang mendarat di website e-commerce.

Ketiga, biaya pemasaran lebih terjangkau, hal ini bisa terjadi karena berjualan di e-commerce tidak membutuhkan toko fisik. Dengan kata lain, penjual simplisia dapat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membangun atau menyewa toko.

Keempat, e-commerce biasanya memberikan fasilitas perbandingan harga, sehingga para konsumen dapat menemukan harga terbaik untuk produk yang sama. Hal ini akan memudahkan penjual simplisia dalam menentukan strategi penetapan harga nantinya.

Kelima, pemasaran simplisia melalui e-commerce dapat berjalan sepanjang waktu, 24 jam sepanjang hari dan sepanjang tahun. Hal ini jelas menguntungkan penjual simplisia karena konsumen dapat memesan kapan saja. meskipun beroperasi 24 jam, penjual simplisia tidak perlu memantau e-commerce seharian penuh, karena e-commerce sudah dilengkapi dengan sistem khusus yang dapat menerima pembelian secara otomatis dan penjual akan menerima pemberitahuan secara realtime.

  1. Melalui Sociopreneur

      Permasalahan seperti petani yang belum sejahtera, pengolahan penanaman rempah yang terkontaminasi bahan kimia, harga jual hasil panen yang rendah, panjangnya rantai distribusi pemasaran hasil panen dan tidak ada teknologi tepat guna untuk pengolahan pasca panen, kesemuanya itu memicu munculnya sociopreneur yang berusaha mengatasi masalah tersebut, salah satunya Agradaya. Apa itu sociopreneur? Sociopreneur merupakan usaha atau bisnis yang tidak hanya mengambil keuntungan semata, ada unsur sosial di dalamnya. 

Agradaya tidak hanya membeli dan memproduksi olahan hasil rempah para petani, disini petani akan mendapatkan pelatihan pertanian alami (organic farming), manajemen lahan, pelatihan usaha tani pembuatan solar drier house dan pola pembelian langsung (direct-fair trade) yang akan mengurangi biaya pembelian pupuk sekaligus menambah nilai jual produk simplisia. Produk simplisia akan dibeli oleh Agradaya dengan harga yang tetap, sehingga penjual simplisia terhindar dari risiko ketidakstabilan harga pasar.

Keuntungan menjual simplisia ke sociopreneur adalah petani akan mendapatkan baik edukasi maupun pelatihan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari simplisia yang dapat diterima oleh pangsa pasar. Dengan adanya kesesuaian standar produksi petani dengan pasar, nilai jual produk akan semakin meningkat sehingga petani lebih diuntungkan. Adanya peran pemuda dalam suatu sociopreneur disebut-sebut menjadi satu bukti bahwa pemuda memanglah agen perubahan bangsa, dalam hal ini berperan membantu masyarakat dalam menyesuaikan keadaan yang cepat mengalami perubahan, yaitu dengan mengantarkan produk olahan petani agar dapat diterima oleh pasar.

Lalu, metode pemasaran mana yang Anda pilih?

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Ketela pohon merupakan salah satu bahan makanan pokok masyarakat Indonesiayang menjadi komoditas unggulan nasional. Nama lain dari ketela pohon diantaranya ubi kayu, singkong, dan kaspe.Hampir semua bagian ketela pohon dimanfaatkan seperti umbinya yang dikenal luassebagai makanan pokok penghasil karbohidrat. Selain itu, daunnya juga biasa digunakan untuk sayuran.

Di Indonesia, persentase penggunaan ketela pohon adalah 28% untukbahan baku industri, 2% untuk bahan pakan, dan 80% diekspor dalam bentuk gaplek. Selain gaplek, ketela pohon dapat diekspor ke negara lain dalam bentuk singkong mentah dan tepung singkong/tepung tapioka. Secara umum alur produksi danpemasaran ketela pohon ditunjukkan oleh tabel dibawah ini.

 

Melihat banyaknya peluang peruntukan dan pengolahan darinya, ketela pohon dapat dikembangkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan ekspor sekaligus kebutuhan industri kecil dan besar sebagaimana pada tabel diatas. Salah satu cara untuk mendukung tujuan itu adalah menggunakan bahan tanam terbaik. Kementerian Pertanian telah benyak melepas varietas ketela pohon yang dapat digunakan oleh petani untuk tujuan pangan dan industri. Adapun ciri ketela pohon atau ubi kayu menurut tujuan adalah sebagai berikut

  1. Pangan (konsumsi langsung atau olahan)

Ubi kayu yang cocok untuk tujuan ini harus memiliki rasa enak (tidak pahit, HCN ≤40 mg/kg umbi segar) dan tekstur daging umbi lembut. Umbi dengan kandungan HCN tinggi dapat menyebabkan keracunan bagi manusia maupun hewan sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung. Varietas yang dapat digunakan diantaranya Malang-1 dan Adira-1, Malang-2, serta varietas lokal seperti Ketan dan Mentega.

Varietas

Tahun dilepas

Umur panen (bulan)

Hasil rata-rata (t/ha)

Kadar HCN (mg/kg)

Rendemen tepung

Karakter lain

Adira-1

1978

7-10

22

27,5

45

Tidak pahit, daging umbi kuning, tahan hama tungau merah, adaptif pop tinggi (15.000 tan/ ha) atau jarak tanam 1,2 m x60 cm

Malang-1

1992

9-10

36

<40

32-36

Tidak pahit, daging umbi putih kekuningan, toleran hama tungau merah

Malang-2

1992

8-10

31

<40

32-36

Tidak pahit, daging umbi kuning muda, agak tahan hama tungau merah, toleran penyakit hawar daun

 

  1. Industri

Untuk industri pangan yang berbasis tepung atau pati ubi kayu sebaiknya dipilih ubi kayu dengan daging umbi putih, kadar bahan kering, dan pati tinggi. Untuk keperluan industri tepung tapioka dan pati, umbi dengan kadar HCN tinggi tidak menjadi masalah karena akan hilang selama proses pengolahan. Varietas yang dapat digunakan diantaranya UJ-5, UJ-3, Adira-4, Malang-4, dan Malang-6.

Varietas

Tahun dilepas

Umur panen (bulan)

Hasil rata-rata (t/ha)

Kadar HCN (mg/kg)

Kadar pati (% basis basah)

Rendemen tepung

Karakter lain

UJ-5

2000

9-10

31

>100

19-30

46

Pahit, daging umbi putih, tahan penyakit leles, peka hama tungau merah, konversi ethanol 4,5 kg umbi kupas/L ethanol

UJ-3

2000

8–10

27

>100

20-27

41

Pahit, daging umbi kekuningan, agak tahan penyakit hawar daun, konversi ethanol 4,9 kg umbi kupas/L ethanol

Adira-4

1978

10

35

68

18-22

39

Pahit, daging umbi putih, tahan penyakit leles, konversi ethanol 4,5–4,7 kg umbi kupas/L ethanol

Malang-4

2001

9

40

100

25-32

Pahit, daging umbi putih, tahan hama tungau merah dan penyakit leles

Malang-6

2001

9

36

100

25-32

43

Pahit, daging umbi putih, tahan hama tungau merah, konversi ethanol 4,7–5,1 kg umbi kupas/L ethanol

 

            Adanya peningkatan produksi umbi perlu diikuti dengan cara pemasaran yang efektif. Selain memasarkan hasil di pasar atau ke tengkulak untuk diserahkan ke pabrik, petani dapat menggunakan cara lain untuk memutus mata rantai perdagangan yang kerap kali merugikan yaitu dengan mengolah ketela pohon bernilai ekonomi tinggi dan menjual langsung di gerai online. Cara pengolahan ketela pohon sudah dibahas dalam artikel lain.

Berikut cara memasarkan produk makanan dari ketela pohon secara online agar diminati oleh pembeli!

  1. Membuat merk makanan yang akan dijual. Dengan membuat merk, makanan yang dijual akan mempunyai identitas tersendiri. Pilih nama merk yang tidak terlalu panjang, namun unik.
  2. Buat foto atau video yang menjelaskan makanan yang dijual. Foto atau video akan menjadi salah satu faktor penentu dibeli atau tidaknya makanan yang akan dijual. Buatlah foto atau video semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian calon pelanggan.
  3. Deskripsikan bahan, bumbu dan rasa. Buat deskripsi bumbu atau bahan yang digunakan untuk membuat makanan yang akan dijual, jelaskan bumbu dan bahan utama dalam membuat makanan tersebut. Ini bertujuan agar pelanggan dapat membayangkan rasanya.
  4. Siapkan kemasan. Buatlah kemasan yang menarik dan kuat agar tahan banting dan melindungi makanan selama proses pengiriman.
  5. Beri jaminan pengiriman barang. Jika makanan yang dijual hanya bertahan dalam beberapa hari maka sebaiknya jasa pengiriman diberikan untuk konsumen yang berada dalam kota/kabupaten saja.
  6. Buat Toko online. Buatlah toko online untuk bisnis kuliner makanan olahan ketela pohon karena hal ini akan membuat pelanggan nyaman dalam berbelanja. Pilihlah platform e-commerce terpercaya di Indonesia.

Leaflet Varietas Unggul Ketela Pohon

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Peta Desa

Statistik