Produk Desa

Sumber pangan nasional negara Indonesia adalah padi. Pola konsumsi dengan hanya satu jenis pangan membuat beras selalu tinggi permintaan sehingga pemerintah mengeluarkan solusi penganekaragaman konsumsi pangan untuk mengurangi konsumsi beras. Indonesia memiliki potensi menghasilkan bahan pangan dari umbi-umbian yang sangat besar sebagai salah satu alternatif sumber pangan.

Umbi-umbian adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah, misalnya ubi kayu, ubi jalar, kentang, bawang, wortel, singkong, garut, kunyit, gadung, bawang, kencur, jahe, kimpul, talas, gembili, ganyong, bengkuang dan sebagainya. Pada umumnya umbi-umbian tersebut merupakan bahan sumber karbohidrat

Ubi jalar merupakan kelompok tanaman pangan yang paling banyak dibudidayakan di bidang pertanian bersumber karbohidrat setelah gandum, beras, jagung dan singkong. Kandungan kalsium dari ubi jalar lebih tinggi dibanding beras, jagung, terigu maupun sorghum. Kandungan kalsium tertinggi terutama pada ubi jalar kuning. Ubi merah dan ubi ungu merupakan sumber pangan yang baik karena kaya akan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari paparan radikal bebas. Sifat antiradikal bebas ini juga dapat menurunkan risiko mengalami penyakit kronis, seperti kanker, jantung, dan penuaan dini. Ubi juga merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral yang baik dan dapat dijadikan sumber karbohidrat alternatif di luar nasi.

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Tanaman obat di Indonesia dikenal sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) atau apotek hidup. Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menurut Harjono, dkk (2017) adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat yang dapat dimanfaatkan sebagai upaya peningkatan kesehatan baik dalam upaya preventif, promotif, maupun kuratif. Bagian tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai obat antara lain daun, kulit batang, buah, biji, dan akarnya. Umumnya, TOGA sering dimanfaatkan sebagai bahan jamu atau minuman kesehatan lainnya. TOGA menurut Kementerian Kesehatan (2011) memberikan banyak manfaat yang dapat dilihat dari aspek kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya.

Banyak masyarakat desa yang menggunakan tanaman obat sebagai obat herbal alternatif. Selain karena warisan budaya turun-temurun obat herbal juga memiliki harga yang relatif murah dibandingkan dengan obat sintetik. Penggunaan obat herbal dari tanaman obat banyak ditemukan di masyarakat, seperti apabila masyarakat desa mengalami mual dan mabuk perjalanan, mereka menggunakan wedang jahe untuk meredakannya. Selain itu, masyarakat desa menggunakan hasil perasan kencur yang diparut untuk untuk meredakan batuk. Selain dua contoh tersebut, masih banyak penggunaan obat herbal lainnya yang tersebar di wilayah Indonesia. Bahkan pemanfaatan tumbuhan sebagai obat telah ada sejak zaman prasejarah manusia. Sebanyak 122 senyawa pada tahun 2001 telah diidentifikasi oleh para peneliti dan digunakan di dunia kedokteran modern merupakan turunan dari pengobatan herbal.

Berdasarkan Badan Pusat Statistika Kabupaten Pacitan, luas lahan dan jumlah produksi biofarmaka (tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan) yang tercatat di Kecamatan Punung terdiri dari jahe, laos/lengkuas, kencur, dan kunyit. Hal tersebut dapat menjadi peluang pengembangan tanaman obat sebagai komoditas potensial daerah. Dari keempat tanaman obat tersebut, jumlah produksi mengalami pasang surut. Adanya peningkatan produksi yang terjadi dipicu oleh tren penggunaan bahan alami sebagai tanggapan dari isu back to nature di kalangan masyarakat global. Adapun statistik luas panen dan jumlah produksi dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 1. Data luas panen tanaman biofarmaka di Kecamatan Punung

Gambar 2. Data jumlah produksi tanaman biofarmaka di Kecamatan Punung

 

Tanaman obat bisa menjadi salah satu peluang yang menguntungkan, terlebih apabila masyarakat dapat mengolah bagian tanaman obat yang berkhasiat menjadi simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami proses pengolahan apapun, kecuali pengeringan untuk menurunkan kadar air.

Simplisia menurut asal bahan dibedakan menjadi 3, yaitu

  1. Simplisia nabati, berasal dari seluruh/bagian tumbuhan

Contoh : rimpang jahe, purwoceng, mahkota dewa, dan lain-lain

  1. Simplisia hewani, berasal dari seluruh/bagian hewan

Contoh : undur-undur, sarang semut, minyak ikan, dan lain-lain

  1. Simplisia pelikan, berasal dari bahan mineral

Contoh: belerang, uap garam, serbuk seng, dan lain-lain

 

Adapun tahap pembuatan simplisia secara umum, sebagai berikut

  1. Pengumpulan bahan

Bahan dipanen saat cukupumur, memiliki kemurnian tinggi, dan telah diidentifikasi secara pasti.

  1. Sortasi basah

Bahan yang masih segar dipilih yang bersih, normal, sehat, dan bebas hama/penyakit

  1. Pencucian

Bahan dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

  1. Perajangan

Perajangan ditujukan untuk menipiskan bahan, memperbesar permukaan bahan, dan mempercepat pengeringan

  1. Pengeringan

Pengeringan dilakukan dengan dijemur di bawah matahari langsung atau oven untuk menurunkan kadar air

  1. Sortasi kering

Bahan yang bersih dan bagus dipilih

  1. Pengawetan (opsional)

Bahan diberi gel apabila diperlukan

  1. Pengemasan

Bahan dikemas dalam wadah plastik yang kedap udara atau toples kaca untuk memudahkan pengiriman

 

Tahap pembuatan simplisia setiap tanaman obat berbeda-beda. Oleh karena itu, masyarakat yang hendak membuat simplisia mencari tutorial atau pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah atau akademisi atau perusahaan obat herbal karena pengolahan simplisia mempengaruhi standar mutu.

Berikut adalah link Operasional Budidaya Tanaman Obat yang membahas prosedur pengeringan simplisia dari jahe, kencur, kunyit, dan temulawak.

Standar Prosedur Jahe-Kencur-Kunyit-Temulawak

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia tanaman obat, kata simplisia pasti sudah tidak asing lagi. Simplisia merupakan bahan alami yang dipergunakan sebagai obat dan belum mengalami proses pengolahan apapun, kecuali pengeringan untuk menurunkan kadar air. Lantas, apa perbedaannya dengan rimpang? Rimpang merupakan modifikasi batang tumbuhan yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas-ruasnya. Jadi, perbedaan dasarnya adalah rimpang masih berbentuk bahan segar yang masih utuh sementara simplisia merupakan bahan kering dan sudah mengalami perubahan bentuk karena pengolahan.

 

Kenapa simplisia?

Pada umumnya, harga rimpang berada pada kisaran harga yang rendah, sehingga menjual hasil panen dalam bentuk rimpang menjadi kurang menguntungkan. Selain itu, produk biofarmaka dalam bentuk rimpang memiliki risiko degradasi mutu akibat penyimpangan yang akan semakin mengurangi nilai jualnya. Sebaliknya, simplisia memiliki harga yang lebih tinggi dan akan semakin tinggi jika permintaan konsumen sedang banyak. Segmen pasar simplisia juga tentunya akan lebih luas, salah satunya karena simplisia merupakan bahan baku pembuatan jamu bagi perusahaan besar seperti Sido Muncul. Oleh karena itu, menjual produk biofarmaka dalam bentuk simplisia tentu akan lebih menguntungkan dibanding menjualnya dalam bentuk rimpang.

Bagaimana cara memasarkan simplisia?

     Selain didistribusikan ke perusahaan atau pabrik obat herbal, simplisia dapat dijual secara mandiri oleh masyarakat. Simplisia dapat dipasarkan melalui platform e-commerce ataupun ke sociopreneur.

  1. Platform e-commerce (perdagangan secara elektronik) atau platform jual beli online

Sekarang ini, penjualan produk melalui internet sangat marak terjadi. Selain karena adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan adanya social distancing (jaga jarak), keuntungan melakukan pemasaran simplisia melalui e-commerce.

Pertama, pemasaran simplisia dapat menjangkau siapapun dan dimanapun, tanpa adanya batasan geografis. Selain itu, semakin maraknya pengguna smartphone juga memungkinkan penjual simplisia menjangkau lebih banyak calon konsumen.

Kedua, penjual simplisia akan mendapatkan konsumen baru via mesin penacari. Banyak orang yang melakukan riset sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Perilaku ini terjadi karena konsumen ingin memastikan bahwa produk yang akan dibeli memiliki kualitas yang baik, sehingga tidak heran jika banyak dari mereka yang mendarat di website e-commerce.

Ketiga, biaya pemasaran lebih terjangkau, hal ini bisa terjadi karena berjualan di e-commerce tidak membutuhkan toko fisik. Dengan kata lain, penjual simplisia dapat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membangun atau menyewa toko.

Keempat, e-commerce biasanya memberikan fasilitas perbandingan harga, sehingga para konsumen dapat menemukan harga terbaik untuk produk yang sama. Hal ini akan memudahkan penjual simplisia dalam menentukan strategi penetapan harga nantinya.

Kelima, pemasaran simplisia melalui e-commerce dapat berjalan sepanjang waktu, 24 jam sepanjang hari dan sepanjang tahun. Hal ini jelas menguntungkan penjual simplisia karena konsumen dapat memesan kapan saja. meskipun beroperasi 24 jam, penjual simplisia tidak perlu memantau e-commerce seharian penuh, karena e-commerce sudah dilengkapi dengan sistem khusus yang dapat menerima pembelian secara otomatis dan penjual akan menerima pemberitahuan secara realtime.

  1. Melalui Sociopreneur

      Permasalahan seperti petani yang belum sejahtera, pengolahan penanaman rempah yang terkontaminasi bahan kimia, harga jual hasil panen yang rendah, panjangnya rantai distribusi pemasaran hasil panen dan tidak ada teknologi tepat guna untuk pengolahan pasca panen, kesemuanya itu memicu munculnya sociopreneur yang berusaha mengatasi masalah tersebut, salah satunya Agradaya. Apa itu sociopreneur? Sociopreneur merupakan usaha atau bisnis yang tidak hanya mengambil keuntungan semata, ada unsur sosial di dalamnya. 

Agradaya tidak hanya membeli dan memproduksi olahan hasil rempah para petani, disini petani akan mendapatkan pelatihan pertanian alami (organic farming), manajemen lahan, pelatihan usaha tani pembuatan solar drier house dan pola pembelian langsung (direct-fair trade) yang akan mengurangi biaya pembelian pupuk sekaligus menambah nilai jual produk simplisia. Produk simplisia akan dibeli oleh Agradaya dengan harga yang tetap, sehingga penjual simplisia terhindar dari risiko ketidakstabilan harga pasar.

Keuntungan menjual simplisia ke sociopreneur adalah petani akan mendapatkan baik edukasi maupun pelatihan untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari simplisia yang dapat diterima oleh pangsa pasar. Dengan adanya kesesuaian standar produksi petani dengan pasar, nilai jual produk akan semakin meningkat sehingga petani lebih diuntungkan. Adanya peran pemuda dalam suatu sociopreneur disebut-sebut menjadi satu bukti bahwa pemuda memanglah agen perubahan bangsa, dalam hal ini berperan membantu masyarakat dalam menyesuaikan keadaan yang cepat mengalami perubahan, yaitu dengan mengantarkan produk olahan petani agar dapat diterima oleh pasar.

Lalu, metode pemasaran mana yang Anda pilih?

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Ketela pohon merupakan salah satu bahan makanan pokok masyarakat Indonesiayang menjadi komoditas unggulan nasional. Nama lain dari ketela pohon diantaranya ubi kayu, singkong, dan kaspe.Hampir semua bagian ketela pohon dimanfaatkan seperti umbinya yang dikenal luassebagai makanan pokok penghasil karbohidrat. Selain itu, daunnya juga biasa digunakan untuk sayuran.

Di Indonesia, persentase penggunaan ketela pohon adalah 28% untukbahan baku industri, 2% untuk bahan pakan, dan 80% diekspor dalam bentuk gaplek. Selain gaplek, ketela pohon dapat diekspor ke negara lain dalam bentuk singkong mentah dan tepung singkong/tepung tapioka. Secara umum alur produksi danpemasaran ketela pohon ditunjukkan oleh tabel dibawah ini.

 

Melihat banyaknya peluang peruntukan dan pengolahan darinya, ketela pohon dapat dikembangkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan ekspor sekaligus kebutuhan industri kecil dan besar sebagaimana pada tabel diatas. Salah satu cara untuk mendukung tujuan itu adalah menggunakan bahan tanam terbaik. Kementerian Pertanian telah benyak melepas varietas ketela pohon yang dapat digunakan oleh petani untuk tujuan pangan dan industri. Adapun ciri ketela pohon atau ubi kayu menurut tujuan adalah sebagai berikut

  1. Pangan (konsumsi langsung atau olahan)

Ubi kayu yang cocok untuk tujuan ini harus memiliki rasa enak (tidak pahit, HCN ≤40 mg/kg umbi segar) dan tekstur daging umbi lembut. Umbi dengan kandungan HCN tinggi dapat menyebabkan keracunan bagi manusia maupun hewan sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung. Varietas yang dapat digunakan diantaranya Malang-1 dan Adira-1, Malang-2, serta varietas lokal seperti Ketan dan Mentega.

Varietas

Tahun dilepas

Umur panen (bulan)

Hasil rata-rata (t/ha)

Kadar HCN (mg/kg)

Rendemen tepung

Karakter lain

Adira-1

1978

7-10

22

27,5

45

Tidak pahit, daging umbi kuning, tahan hama tungau merah, adaptif pop tinggi (15.000 tan/ ha) atau jarak tanam 1,2 m x60 cm

Malang-1

1992

9-10

36

<40

32-36

Tidak pahit, daging umbi putih kekuningan, toleran hama tungau merah

Malang-2

1992

8-10

31

<40

32-36

Tidak pahit, daging umbi kuning muda, agak tahan hama tungau merah, toleran penyakit hawar daun

 

  1. Industri

Untuk industri pangan yang berbasis tepung atau pati ubi kayu sebaiknya dipilih ubi kayu dengan daging umbi putih, kadar bahan kering, dan pati tinggi. Untuk keperluan industri tepung tapioka dan pati, umbi dengan kadar HCN tinggi tidak menjadi masalah karena akan hilang selama proses pengolahan. Varietas yang dapat digunakan diantaranya UJ-5, UJ-3, Adira-4, Malang-4, dan Malang-6.

Varietas

Tahun dilepas

Umur panen (bulan)

Hasil rata-rata (t/ha)

Kadar HCN (mg/kg)

Kadar pati (% basis basah)

Rendemen tepung

Karakter lain

UJ-5

2000

9-10

31

>100

19-30

46

Pahit, daging umbi putih, tahan penyakit leles, peka hama tungau merah, konversi ethanol 4,5 kg umbi kupas/L ethanol

UJ-3

2000

8–10

27

>100

20-27

41

Pahit, daging umbi kekuningan, agak tahan penyakit hawar daun, konversi ethanol 4,9 kg umbi kupas/L ethanol

Adira-4

1978

10

35

68

18-22

39

Pahit, daging umbi putih, tahan penyakit leles, konversi ethanol 4,5–4,7 kg umbi kupas/L ethanol

Malang-4

2001

9

40

100

25-32

Pahit, daging umbi putih, tahan hama tungau merah dan penyakit leles

Malang-6

2001

9

36

100

25-32

43

Pahit, daging umbi putih, tahan hama tungau merah, konversi ethanol 4,7–5,1 kg umbi kupas/L ethanol

 

            Adanya peningkatan produksi umbi perlu diikuti dengan cara pemasaran yang efektif. Selain memasarkan hasil di pasar atau ke tengkulak untuk diserahkan ke pabrik, petani dapat menggunakan cara lain untuk memutus mata rantai perdagangan yang kerap kali merugikan yaitu dengan mengolah ketela pohon bernilai ekonomi tinggi dan menjual langsung di gerai online. Cara pengolahan ketela pohon sudah dibahas dalam artikel lain.

Berikut cara memasarkan produk makanan dari ketela pohon secara online agar diminati oleh pembeli!

  1. Membuat merk makanan yang akan dijual. Dengan membuat merk, makanan yang dijual akan mempunyai identitas tersendiri. Pilih nama merk yang tidak terlalu panjang, namun unik.
  2. Buat foto atau video yang menjelaskan makanan yang dijual. Foto atau video akan menjadi salah satu faktor penentu dibeli atau tidaknya makanan yang akan dijual. Buatlah foto atau video semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian calon pelanggan.
  3. Deskripsikan bahan, bumbu dan rasa. Buat deskripsi bumbu atau bahan yang digunakan untuk membuat makanan yang akan dijual, jelaskan bumbu dan bahan utama dalam membuat makanan tersebut. Ini bertujuan agar pelanggan dapat membayangkan rasanya.
  4. Siapkan kemasan. Buatlah kemasan yang menarik dan kuat agar tahan banting dan melindungi makanan selama proses pengiriman.
  5. Beri jaminan pengiriman barang. Jika makanan yang dijual hanya bertahan dalam beberapa hari maka sebaiknya jasa pengiriman diberikan untuk konsumen yang berada dalam kota/kabupaten saja.
  6. Buat Toko online. Buatlah toko online untuk bisnis kuliner makanan olahan ketela pohon karena hal ini akan membuat pelanggan nyaman dalam berbelanja. Pilihlah platform e-commerce terpercaya di Indonesia.

Leaflet Varietas Unggul Ketela Pohon

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia melaporkan, pada tahun 2017 secara jumlah unit, UMKM memiliki pangsa pasar 99,99% (62,9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. Usaha Mikro juga menyerap 107,2 juta tenaga kerja, sekitar 89,2% dari tenaga kerja nasional.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008, dijelaskan UMKM sebagai “perusahaan kecil yang dimiliki dan dikelola oleh seseorang atau dimiliki oleh sekelompok kecil orang dengan jumlah kekayaan dan pendapatan tertentu”. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang ada di desa-desa, seperti yang ada di desa Ploso.

Kunci pengembangan produk UMKM adalah tersedianya pasar yang cocok untuk produk UMKM. Pasar yang semakin kecil tentu akan menutup potensi pengembangan UMKM sehingga UMKM akan lambat berkembang. Sebaliknya, pasar yang besar dan mendukung akan membantu pengembangan UMKM agar menjadi lebih besar.

Salah satu sarana yang dapat dipakai untuk membesarkan pasar adalah dengan menggunakan ­e-commerce. Indonesia memiliki banyak sekali ­e-commerce yang support terhadap UMKM, seperti Blibli, Tokopedia, dan Shopee. Perkembangan ­e-commerce di Indonesia juga sangat pesat dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Pada tahun 2014, ada 19,8 juta pengguna ­e-commerce di Indonesia. Namun pada tahun 2020, diperkirakan ada 39,3 juta pengguna rutin yang berbelanja di ­e-commerce.

Kemeterian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga memfasilitasi UMKM untuk masuk ke dalam pasar ­e-commerce. Sampai tahun 2019 sendiri, ada 8 juta UMKM yang sudah bergabung di berbagai ­e-commerce yang ada di Indonesia. Kominfo juga sudah menginisiasi program UMKM Go-Online untuk menambah penetrasi UMKM yang menjual produknya via ­e-commerce. Disadur dari website Kominfo, rogram UMKM Go-Online berupaya membantu masyarakat kecil terutama pengusaha mikro, kecil, dan menengah untuk ikut berjualan daring dengan memanfaatkan marketplace yang ada di ­e-commerce.

Dari survei yang dilakukan pada Juni 2020 oleh Sea Insight, ditemukan bahwa 45% pelaku usaha lebih aktif berjualan di ­e-commerce untuk mengubah strategi penjualan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini dapat dijadikan inspirasi agar kita dapat berjualan di ­e-commerce untuk memperluas pasar yang ada. Selain itu, 1 dari 5 UMKM yang aktif berjualan di ­e-commerce mengatakan ini pertama kalinya mereka berjualan di platform online. Maka, tidak menutup kemungkinan pula bapak/ibu dapat berjualan di ­e-commerce yang ada di Indonesia.

Berjualan di ­e-commerce juga dapat membantu meningkatkan omset bisnis bapak/ibu sehingga pemasukan keluarga menjadi lebih sehat. Data menunjukkan bahwa mereka yang beralih ke ­e-commerce juga merasakan banyak manfaat. Misalnya, setelah berjualan di ­e-commerce, 60% dari UMKM ini dapat berjualan ke luar daerah yang belum pernah tersambangi sebelumnya, dan meningkatkan total pendapatan hingga 165%.

Pemanfaatan ­e-commerce sebagai sarana berjualan juga dapat menunjang efisiensi dan inklusivitas bisnis. Riset McKinsey menyebutkan bahwa konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11%-25% dari nilai belanjanya dengan menggunakan ­e-commerce dibandingkan dengan berbelanja secara konvensional.

Kondisi-kondisi ini harus dapat dimanfaatkan oleh kita sebagai pelaku UMKM untuk memasarkan produk-produk kreatif yang ada di desa Ploso. Desa Ploso memiliki banyak sekali potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pendapatan keluarga, seperti olahan ketela, olahan ubi, dan juga genteng dengan kualitas yang baik, dan dapat dijual ke seluruh Indonesia.

Produk-produk kreatif yang bersumber dari desa Ploso ini jika dikembangkan dengan baik, maka ke depannya dapat menjadi sebuah kekhasan tersendiri bagi desa Ploso dan dapat menjadi ikon atau komoditas utama yang terkenal dan disukai oleh masyarakat Ploso dan bangsa Indonesia.

 

Penyusun,

Tim KKN PPM Punung-Pacitan UGM 2020

Peta Desa

Statistik